1. Hakikat Pembelajaran
A. Pengertian Pembelajaran
Menurut Ahmar (2012:
10) Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan
yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan
pengetahuan , penguasaan kemahiran dan tabiat , serta pembentukan sikap dan
kepercayaan pada peserta didik.
Menurut
Dimyati dan Mudjiono (Ahmar 2012: 10) pembelajaran adalah kegiatan guru secara
terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat belajar secara aktif, yang
menekankan pada penyediaan sumber belajar.
Konsep pembelajaran
menurut Corey (Ahmar 2012: 11) adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang
secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku
tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap
situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan.
Pembelajaran adalah
suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material,
fasilitas, perlengkapan dan prsedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan
pemebalajaran. (Hamalik,1994)
Dari beberapa
pendapat ahli di atas, Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses
interaksi yang dilakukan antara guru dengan siswa untuk pemerolehan ilmu dan
pengetahuan dengan kegiatan belajar yang saling bertukar informasi.
B. Komponen Pembelajaran
Sumiati dan
Asra (Ahmar 20012: 12) mengelompokkan komponen-komponen pembelajaran dalam tiga
kategori utama, yaitu: guru, isi atau materi pembelajaran, dan siswa. Interaksi
antara tiga komponen utama melibatkan metode pembelajaran, media pembelajaran,
dan penataan lingkungan tempat belajar, sehingga tercipta situasi pembelajaran
yang memungkinkan terciptanya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.
a. Tujuan
Pembelajaran
Tujuan pembelajaran pada dasarnya merupakan
harapan, yaitu apa yang diharapkan dari siswa sebagai hasil belajar. Robert F.
Meager (Ahmar 2012: 12) memberi batasan yang lebih jelas tentang tujuan
pembelajaran, yaitu maksud yang dikomunikasikan melalui peenyataan yang
menggambarkan tentang perubahan yang diharapkan dari siswa.
Menurut H. Daryanto (Ahmar 2012: 12) tujuan
pembelajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan,
keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki siswa sebagai akibat dari hasil
pembelajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan
diukur.
Dari beberapa pendapat ahli di atas, Jadi dapat
disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran adalah perilaku hasil belajar yang
diharapkan dapat dikuasi oleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan
pembelajaran.
b. Materi
Pembelajaran
Menurut Ahmar (2012:14) Materi pembelajaran pada
dasarnya merupakan isi dari kurikulum, yakni berupa mata pelajaran atau bidang
studi dengan topik/sub topik dan rinciannya. Materi pembelajaran disusun secara
sistematis dengan mengikuti prinsip psikologi. Agar materi pembelajaran itu
dapat mencerminkan target yang jelas dari perilaku siswa setelah mengalami
proses belajar mengajar. Materi pembelajaran harus mempunyai lingkup dan urutan
yang jelas. Lingkup dan urutan itu dibuat bertolak dari tujuan yang dirumuskan.
Syaiful Bahri Djamarah, dkk (Ahmar 2012: 15)
menerangkan materi pembelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam
proses belajar mengajar. Tanpa materi pembelajaran proses belajar mengajar
tidak akan berjalan.
Dari beberapa pendapat ahli di atas, Jadi dapat
disimpulkan bahwa materi pembelajaran adalah bahan pembelajaran untuk membantu
pendidik dalam kegiatan belajar mengajar yang disusun secara sistematis
berdasarkan kurikulum dengan tujuan yang telah dirumuskan.
Harjanto (Ahmar 2012: 15-17) menjelaskan
beberapa kriteria pemilihan materi pembelajaran yang akan dikembangka dalam
sistem pembelajaran dan yang mendasari penentuan strategi pembelajaran, yaitu:
1) Kriteria tujuan
pembelajaran.
2) Materi pembelajaran supaya
terjabar.
3) Relevan dengan kebutuhan
siswa.
4) Kesesuaian dengan kondisi
masyarakat.
5) Materi pembelajaran
mengandung segi-segi etik.
6) Materi pembelajaran tersusun
dalam ruang lingkup dan urutan yang sistematik dan logis.
7) Materi pembelajaran
bersumber dari buku sumber yang baku, pribadi guru yang ahli, dan masyarakat.
c. Metode
Pembelajaran
Menurut Ahmar (2012: 18) Metode pembelajaran
merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, dan memberi latihan isi
pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Metode pembelajaran yang
ditetapkan guru memungkinkan siswa untuk belajar proses, bukan hanya belajar
produk.
Menurut Sumiati dan Asra (Ahmar, 20012: 18)
ketepatan penggunaan metode pembelajaran tergantung pada kesesuaian metode
pembelajaran materi pembelajaran, kemampuan guru, kondisi siswa, sumber atau
fasilitas, situasi dan kondisi dan waktu.
Dari beberapa pendapat ahli di atas, Jadi dapat
disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah cara seorang pendidik dalam
menyajikan sebuah pembelajaran sesuai dengan kemampuan guru untuk menciptakan
pembelajaran yang kondusif yang menjadikan siswa tidak hanya belajar produk
akan tetapi menjadikan siswa untuk belajar berporses.
d. Media
Pembelajaran
Pembelajaran merupakan kegiatan yang melibatkan
siswa dan guru dengan menggunakan berbagai sumber belajar baik dalam situasi
kelas maupun di luar kelas. Dalam arti media yang digunakan untuk pembelajaran
tidak terlalu identik dengan situasi kelas dalam pola pengajaran konvensional
namunproses belajar tanpa kehadiran guru dan lebih mengandalkan media termasuk
dalam kegiatan pembelajaran. Menurut Rudi Susilana dan Cepi Riyana (Ahmar,
2012: 19) mengklasifikasikan penggunaan media berdasarkan tempat penggunaannya,
yaitu:
1) Penggunaan media di kelas
2) Penggunaan media di luar
kelas
a)Penggunaan media tidak terprogram
b) Penggunaan media
secara terprogram
e. Evaluasi
Pembelajaran
Lee J. Cronbach (Ahmar, 2012: 21)
merumuskan bahwa evaluasi sebagai kegiatan pemeriksaan yang sistematis dari
peristiwa-peristiwa yang terjadi dan akibatnya pada saat program dilaksanakan
pemeriksaan diarahkan untuk membantu memperbaiki program itu dan program lain
yang memiliki tujuan yang sama.
Harjanto (2005: 277) evaluasi pembelajaran
adalah penilaian atau penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan peserta
didik kearah tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam hukum.
f. Peserta
didik/siswa
Siswa merupakan salah satu
komponen inti dari pembelajaran, karena inti dari proses pembelajaran adalah
kegiatan belajar siswa dalam mencapai suatu tujuan. Menurut Slameto
(Ahmar 2012: 23) menyatakan belajar adalah proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.
g. Pendidik/guru
Secara umum tugas guru adalah
sebagai fasilitator, yang bertugas menciptakan situasi yang memungkinkan
terjadinya proses belajar pada diri siswa. Menurut Suciati, dkk ( Ahmar 2012:
24) dalam menjalankan tugasnya sebagai fasilitator, ada dua tugas yang harus
dikerjakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran yang efektif. Kedua tugas
tersebut sebagai pengelola pembelajaran dan sebagai pengelola kelas.
h. Lingkungan tempat
belajar
Lingkungan merupakan segala
situasi yang ada disekitar kita. Suciati, dkk ( Ahmar 2012: 25) menjelaskan
bahwa lingkungan belajar adalah situasi yang ada di sekitar siswa pada saat
belajar. Situasi ini dapat mempengaruhi proses belajar siswa. M. Dalyono (2007:
129) juga menegaskan bahwa lingkungan itu sebenarnya mencakup segala material
dan stimulus di dalam dan di luar individu,baik yang bersifat fisiologis,
psikologis maupun sosio-kultural
C. Pengelolaan tempat pembelajaran
Mengajar merupakan
suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan
menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar mengajar. Tugas
dan tanggung jawab seorang guru adalah mengelola proses belajar mengajar yang
selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas belajar.
Menurut
Sumiati dan Asra dalam Ahmar (2012) peran guru dalam pembelajaran yang dapat
membangkitkan aktivitas siswa setidak-tidaknya menjalankan tugas utama, berikut
ini:
a. Merencanaan
pembelajaran, yang terinci dalam empat sub kemampuan yaituperumusan tujuan
pembelajaran, penetapan materi pembelajaran, penetapan kegiatan belajar
mengajar, penetapan metode dan media pembelajaran, penetapan alat evaluasi
b. Pelaksanaan
pengajaran yang termasuk di dalamnya adalah penilaian pencapaian tujuan
pembelajaran
c. Mengevaluasi
pembelajaran dimana evaluasi ini merupakan salah satu komponen pengukur derajat
keberhasilan pencapaian tujuan, dan keefektifan proses pembelajaran yang
dilaksanakan
d. Memberikan
umpan balik. umpan balik mempunyai fungsi untuk membantu siswa memelihara minat
dan antusias siswa dalam melaksanakan tugas belajar.
2. Model
Desain Pembelajaran
A. Pengertian Desain Pembelajaran
Menurut Gagne dalam Sanjaya
(2008: 66) menyatakan bahwa desain pembelajaran disusun untuk membantu proses
belajar peserta didik, proses belajar tersebut memiliki tahapan saat ini dan
tahapan jangka panjang. Menurut Gagne, belajar seseorang dapat dipengaruhi
oleh dua faktor, yakni faktor internal dan eksternal.
a. Faktor internal adalah
faktor yg berkaitan dengan kondisi yang dibawa atau datang dari dalam individu
siswa, seperti kemampuan dasar, gaya belajar seseorang, minat dan bakat serta
kesiapan setiap individu yang belajar.
b. Faktor eksternal adalah
faktor yang datang dari luar individu, yakni berkaitan dengan penyediaan
kondisi atau lingkungan yang didesain agar siswa belajar. Desain pembelajaran
berkaitan dengan faktor eksternal ini, yakni pengaturan lingkungan dan kondisi
yg memungkinkan siswa dapat belajar.
Gentry dalam Sanjaya (2008: 67)
bahwa desain pembelajaran berkenaan dengan proses menentukan tujuan
pembelajaran, strategi dan teknik untuk mencapai tujuan serta merancang media
yang dapat digunakan untuk keefektifan pencapaian tujuan. Menurut Sujarwo ( :
3) Desain pembelajaran adalah pengembangan secara sistematis dari spesifikasi
pembelajaran dengan menggunakan teori belajar dan pembelajaran untuk menjamin
kualitas pembelajaran.
Dari beberapa pendapat
ahli diatas dapat disimpulkan bahwa desain pembelajaran adalah penyusunan media
pembelajaran dengan menggunakan teknologi berupa komunikasi dan isi
pembelajaran yang dapat membantu antara guru dan peserta didik terjadinya
transfer pengetahuan secara efektif.
B. Kriteria Desain Instruksional
Menurut Sanjaya (2008: 68-69)
Desain instruksional yang baik harus memiliki beberapa kriteria di antaranya :
a. Berorientasi
pada siswa
Mendesain pembelajaran perlu di awali dengan
melakukan studi pendahuluan tentang siswa diantaranya :
1) Kemampuan dasar
Pemahaman kemampuan dasar yang dimiliki siswa
perlu dipahami untuk menentukan dari mana sebaiknya kita memulai mendesain
pembelajaran. Dalam menentukan tujuan pembelajaran yang harus dicapai
selamanya disesuaikan dengan kemampuan yang telah atau harus dimiliki
terlebih dahulu oleh setiap siswa. Dengan demikian, desain pembelajaran
dirancang sesuai dengan potensi dan kompetensi yang telah dimiliki oleh siswa.
Dengan kata lain desain tidak dirancang semata-mata oleh kemauan dan kehendak guru.
2) Gaya belajar
Gaya belajar setiap siswa memeiliki perbedaan
Deporter membagi kedalam tiga tipe, yakni tipe auditif, tipe visual, dan tipe
kinetetis. Siswa yang bertipe auditif akan menangkap informasi lebih banyak
melalui pendengaran, dengan demikian desain pembelajaran dirancang agar siswa
lebih banyak mendengar melalui berbagai media yang dapat didengar seperti radio
atau tape recorder.
b. Berpijak pada
pendekatan sistem
Sistem adalah satu kesatuan komponen yang saling
berkaitan untuk mencapai tujuan. Melalui pendekatan sistem, bukan saja dapat
diprediksi keberhasilannya, akan tetapi juga terhindar dari ketidakpastian. Hal
ini disebabkan melalui pendekatan sistem dari awal sudah diantisipasi berbagai
kendala yang mungkin dapat menghambat terhadap pencapaian tujuan. Atas dasar
itulah, maka pendekatan sistem dalam desain instruksional merupakan pendekatan
ideal yang dapat dilakukan oelh para desainer pembelajaran. ‘
c. Teruji secara empiris
Sebelum diguanakan, sebuah desain instrusional
harus teruji dahulu efektivitas dan efisiensinya secara empiris. Melalui
pengujian secara empiris dapat dilihat berbagai kelemahan dan berbagai kendala
yang mungkin muncul sehingga jaub sebelumnya dapat diantisipasi. Selain itu,
melalui pengkajian ilmiah dapat meyakinkan para pengembang pembelajaran untuk
menggunakannya.
C. Hubungan perencanaan dan desain
pembelajaran
Perencanaan pembelajaran berbeda dengan desain pembelajaran, namun
keduanya memiliki hubungan yang sangat erat sebagai program pembelajaran.
Perencanaan pembelajaran disusun untuk kebutuhan guru dalam melaksanakan tugas
mengajarnya. Dengan demikian, perencanaan merupakan kegiatan menerjemahkan
kurikulum sekolah kedalam kegiatan pembelajaran dikelas, (Shambaugh dan
Magliaro dalam sanjaya ( 2008: 69). Walaupun perencanaan pembelajaran
berkaiatan dengan desain pembelajaran, keduanya memiliki posisi yang berbeda.
Perencanaan lebih menekankan pada proses pengembangan atau penerjemahan suatu
kurikulum sekolah, sedangkan desain menekankan pada proses merancang program pembelajaran
untuk membantu proses belajar siswa .
D. Model-Model Desain Pembelajaran
Model desain sistem pembelajaran berperan
sebagai alat konseptual, pengelolaan, komunikasi untuk menganalisis, merancang,
menciptakan, mengevaluasi program pembelajaran, dan program pelatihan. Pada
umumnya, setiap desain sistem pembelajaran memiliki keunikan dan perbedaan
dalam langkah-langkah dan prosedur yang digunakan. Perbedaan juga kerap
terdapat pada istilah-istilah yang digunakan. Namun demikian, model-model
desain tersebut memiliki dasar prinsip yang sama dalam upaya merancang program
pembelajaran yang berkualitas. Dalam desain pembelajaran dikenal beberapa model
yang dikemukakan oleh para ahli. Beberapa contoh dari model desain pembelajaran
diuraikan secara lebih jelas berikut ini:
a. Model Dick and Carey
Model yang dikembangkan didasarkan pada penggunaan
pendekatan sistem terhadap komponen-komponen dasar desain pembelajaran yang
meliputi analisis desain pengembangan, implementasi dan evaluasi. Adapun
komponen dan sekaligus merupakan langkah-langkah utama dari model desain
pembelajaran yang dikemukakan oleh Dick, Carey & Carey (2009) adalah:
1) Identifikasi tujuan
pembelajaran khusus
Langkah pertama yang dilakukan dalam menerapkan
model pembelajaran ini, adalah menentukuan kemampuan atau kompetensi yang perlu
dimiliki peserta didik setelah menempuh program pembelajaran. Hal ini
kompetensi yang harus dimiliki peserta didik adalah pemahaman tentang materi
perkuliahan.
2) Analisis instruksional
Setelah melakukan identifikasi tujuan
pembelajaran, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis instruksional yaitu
sebuah prosedur yang digunakan untuk menentukan ketrampilan dan pengetahuan
yang relevan dan diperlukan oleh peserta didik untuk mencapai kompetensi.
Antara lain pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang perlu dimiliki peserta
didik setelah mengikuti pembelajaran..
3) Analisis peserta didik dan
konteks
Selanjutnya analisis terhadap karakteristik
peserta didik yang akan belajar dan konteks pembelajaran. Analisis konteks
meliputi kondisi-kondisi terkait dengan ketrampilan yang dipelajari peserta didik
dan situasi tugas yang dihadapi peserta didik untuk menerapkan pengetahuan dan
ketrampilan yang dipelajari, sedang analisis karakteristik peserta didik adalah
kemampuan aktual yang dimiliki peserta didik.
4) Merumuskan Tujuan
Pembelajaran Khusus
Dengan dasar analisis instruksional tersebut,
maka dirumuskan tujuan pembelajaran khusus yang akan menjadi harapan/gambaran
dari perilaku peserta didik setelah menerima pelajaran. Dalam pengembanganya
tujuan pembelajaran khusus/indikator ini adalah perubahan perilaku pengetahuan
mengenai materi perkuliahan.
5) Mengembangkan alat penilaian
Alat penilaian ini menjadi salah satu feedback
dalam pembelajaran untuk mengetahui ketercapain tujuan dan kompetensi khusus
yang telah dirumuskanya. Dalam pengembangnya alat evaluasi ini adalah
performance peserta didik setelah menerima pelajaran. Apakah tingkat pemahaman
peserta didik meningkat atau tidak.
6) Mengembangkan strategi
pembelajaran
Strategi pembelajaran yang dipilih adalah
strategi pembelajaran yang dapat dijadikan jembatan/media transformasi apakah
mendukung ketercapaian kompetensi yang telah dirumuskan.
7) Pengembangan bahan ajar
Dalam langkah ini, pengembangan bahan
ajar disesuaikan dengan tujuan pembelajaran/kompetensi yang telah dirumuskan,
serta disesuaikan dengan strategi pembelajaran yang digunakan..
8) Merancang evaluasi formatif
Setelah draft rancangan tentang program
pembelajaran selesai dikembangkan, maka evaluasi formatif ini berfungsi sebagai
alat untuk mengumpulkan data kekuatan dan kelemahan program pembelajaran yang
telah dirancang. Model ini dikembangkan dengan menguji cobakan pada kelas
kelompok kecil misalnya 2 atau 3 peserta didik atau 10 orang peserta didik
dalam diskusi terbatas.
9) Melakukan revisi terhadap
program pembelajaran
Langkah ini dilakukan setelah mendapatkan
masukan dari evaluasi formatif terhadap draf program. Pada langkah ini, tidak
hanya mengevaluasi terhadap draf program saja, akan tetapi pada semua sistem
pembelajaran mulai dari analisis instruksional sampai evaluasi formatif.
10) Melakukan evaluasi sumatif
Evaluasi sumatif merupakan evaluasi puncak terhadap
program pembelajaran yang telah dirancang, setelah program tersebut dilakukan
evaluasi formatif dan dilakukan revisi-revisi terhadap produk, maka evaluasi
sumatif dilakukan.
b. Model Kemp
Menurut Morisson, Ross, dan Kemp (2004), model
desain sistem pembelajaran ini akan membantu pendidik sebagai perancang program
atau kegiatan pembelajaran dalam memahami kerangka teori dengan lebih baik dan
menerapakan teori tersebut untuk menciptakan aktivitas pembelajaran yang lebih
efektif dan efisien. Desain pembelajaran model Kemp dapat dijelaskan dengan
sebuah bagan berikut:
Secara singkat, menurut model ini terdapat
beberapa langkah, yaitu:
1) Menentukan tujuan dan daftar
topik, menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap topiknya;
2) Menganalisis karakteristik
peserta didik, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain;
3) Menetapkan tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolok
ukur perilaku peserta didik;
4) Menentukan isi materi
pelajar yang dapat mendukung tiap tujuan;
5) Pengembangan penilaian awal
untuk menentukan latar belakang peserta didik dan pemberian level pengetahuan
terhadap suatu topik;
6) Memilih aktivitas dan sumber
pembelajaran yang menyenangkan atau menentukan strategi pembelajaran, jadi
peserta didik akan mudah menyelesaikan tujuan yang diharapkan;
7) Mengkoordinasi dukungan
pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitas-fasilitas,
perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran;
8) Mengevaluasi pembelajaran
peserta didik dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta melihat
kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari perencanaan yang
membutuhkan perbaikan yang terus menerus, evaluasi yang dilakukan berupa evaluasi
formatif dan evaluasi sumatif.
c. Model ADDIE
Ada satu model desain
pembelajaran yang lebih sifatnya lebih generik yaitu model ADDIE
(Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). ADDIE muncul pada tahun 1990-an
yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda. Salah satu fungsinya ADDIE yaitu
menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program pelatihan
yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri. Model ini
menggunakan lima tahap pengembangan yakni: a) Analysis (analisa), b) Design
(disain/perancangan), c) Development (pengembangan), d) Implementation
(implementasi/eksekusi), e) Evaluation (evaluasi/umpan balik).
d. Model Hanafin and Peck
Model Hannafin dan Peck ialah model desain
pengajaran yang terdiri daripada tiga fase, yaitu fase analisis kebutuhan, fase
desain dan fase pengembangan atau implementasi. Dalam model ini, penilaian dan
pengulangan perlu dijalankan dalam setiap fase. Model ini adalah model desain
pembelajaran berorientasi produk.
e. Model Isman
Pembelajaran disain model Isman dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut : 1)input (identifikasi kebutuhan, isi, tujuan,
metode, materi dan media), 2) proses (protootipe test, disain ulang
pembelajaran, kegiatan pembelajaran), 3) output (testing dan analisis hasil),
4) umpan balik, 5) pembelajaran.
f. Model Banathy
Model ini memandang bahwa penyusunan sistem instruksional
dilakukan melalui tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahapan dalam
mendesain suatu program pembelajaran yakni:
a. Menganalisis dan merumuskan tujuan, baik tujuan
pengembangan sistem maupun pengembangan spesifik. Tujuan merupakan sasaran dan
arah yang harus dicapai oleh siswa atau peserta didik.
b. Merumuskan kriteria tes yang sesuai
dengan tujuan yang hendak dicapai. Item tes dalam tahap ini dirumuskan untuk
menilai perumusan tujuan. Melalui rumusan tes dapat menyakinkan kita bahwa
setiap tujuan ada alat untuk menilai keberhasilannya.
c. Menganalisis dan
merumuskan kegiatan belajar, yakni kegiatan menginventarisasi seluruh kegiatan
belajar mengajar, menilai kemampuan penerapannya sesuai dengan kondisi yang ada
serta menentukan kegiatan yang mungkin dapat diterapkan.
d. Merancang sistem, yaitu kegiatan menganalisis sistem
menganalisis setiap komponen sistem, mendistribusikan dan mengatur penjadwalan.
e. Mengimplementasikan dan melakukan kontrol
kualitas sistem, yakni melatih sekaligus menilai efektivitas sistem, melakukan
penempatan dan melaksanakan evaluasi
f. Mengadakan perbaikan
dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi.
Langka 1 s.d 4 merupakan tahapan dalam proses
perencanaan, sedangkan tahap 5 s.d 6 adalah tahap pelaksanaan dari perencanaan
yang sudah dirumuskan.
g. Model PPSI (Prosedur
Pengembangan Sistem Intruksional) ( Sanjaya 2008: 66-67)
Model PPSI adalah model yang dikembangkan di
Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975. PPSI berfungsi untuk
mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara
sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan proses
belajar mengajar
PPSI terdiri dari 5 tahap :
1) Merumuskan tujaun, yakni
kemampuan yang harus dicapai oleh siswa. Ada 4 syarat dalam perumusan tujuan
ini yakni harus operasional, artinya tujuan yang dirumuskan harus spesifik atau
dapat diukur, berbentuk hasil belajar bukan proses belajar, berbentuk perubahan
tingkah laku dan dalam setiap rumusan tujuan hanya satu bentuk tingkah laku.
2) Mengembangkan alat evaluasi,
yakni menentukan jenis tes dan menyusun item soal untuk masing-masing tujuan.
Alat evaluasi disimpan pada tahap 2 setelah rumusan tujuan untuk meyakinkan
ketepatan tujuan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
3) Mengembangkan kegiatan belajar mengajar, yakni merumuskan
semua kemungkinan kegiatan belajar dan menyeleksi kegiatan belajar perlu
ditempuh.
4) Mengembangkan program kegiatan pembelajaran yakni
merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode dan memilih alat dan sumber
pelajaran.
5) Pelaksanaan program, yaitu
kegiatan mengadakan prates, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan psikotes
dan melakukan perbaikan.
3. Analisis
Kebutuhan
A. Konsep Kebutuhan Pembelajaran
Menurut Abidin
(2007:61) Kesenjangan adalah sebuah permasalahan yang harus dipecahkan karena
itu kesenjangan dijadikan suatu kebutuhan dalam merancang pembelajaran,
sehingga pembelajaran yang dilaksanakan merupakan solusi terbaik. Menurut M.
Atwi Suparman dalam Abidin (2007 : 61) kebutuhan adalah kesenjangan antara
keadaan sekarang dengan yang seharusnya dalam redaksi yang berbeda tapi sama.
Morrison dalam Abidin (2007:61), mengatakan bahwa kebutuhan (need) diartikan
sebagai kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan kondisi yang sebenarnya,
keinginan adalah harapan ke depan atau cita-cita yang terkait dengan pemecahan
terhadap suatu masalah. Sedangkan analisa kebutuhan adalah alat untuk mengidentifikasi
masalah guna menentukan tindakan yang tepat. (Morrison dalam Abidin, 2007: 61)
Analisi
kebutuhan merupakan aktivitas ilmiah untuk mengidentifikasi factor-faktor
pendukung dan pebghambat proses pembelajaran guna memilih dan menentukan media
yang tepat dan relevan mencapai tujuan pembelajaran dan mengarah pada
peningkatan mutu pendidikan.
Menurut Anderson analisis kebutuhan (Need Assessment) diartikan
sebagai suatu proses kebutuhan sekaligus menentukan prioritas. Analisis kebutuhan
adalah suatu cara atau metode untuk mengetahui perbedaan anatara
kondisi yang diinginkan/seharunya atau diharapkan dengan kondisi yang ada.
Kondisi yang diinginkan seringkali disebut dengan kondisi ideal, sedangkan
kondisi yang ada seringkali disebut dengan kondisi atau kondisi yang nyata.
Menurut
Morrison dalam Abidin (2007: 61-62) membagi fungsi analisa kebutuhan sebagai
berikut:
a. Mengidentifikasi
kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa
yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
b. Mengidentifikasi
kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain
yang menggangu pekerjaan atau lingkungan pendidikan
c. Menyajikan
prioritas-prioritas untuk memilih tindakan.
d. Memberikan
data basis untuk menganalisa efektifitas pembelajaran.
Ada enam macam kebutuhan yang biasa digunakan
untuk merencanakan dan mengadakan analisa kebutuhan (Morrison dalam
Abidin, 2007: 62).
a. Kebutuhan
Normatif, Membandingkan peserta didik dengan standar nasional, misal, Ebtanas,
UMPTN, dan sebagainya.
b. Kebutuhan
Komperatif, membandingkan peserta didik pada satu kelompok dengan kelompok lain
yang selevel. Misal, hasil Ebtanas SLTP A dengan SLTP
c. Kebutuhan
yang dirasakan, yaitu hasrat atau keinginan yang dimiliki masing-masing peserta
didik yang perlu ditingkatkan. Kebutuhan ini menunjukan kesenjangan antara
tingkat ketrampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Cara terbaik
untuk mengidentifikasi kebutuhan ini dengan cara interview.
d. Kebutuhan
yang diekspresikan, yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu
diekspresikan dalam tindakan. Misal, siswa yang mendaftar sebuah kursus.
e. Kebutuhan
Masa Depan, Yaitu mengidentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi di
masa mendatang. Misal, penerapan teknik pembelajaran yang baru, dan sebagainya.
f. Kebutuhan
Insidentil yang mendesak, yaitu faktor negatif yang muncul di luar dugaan yang
sangat berpengaruh. Misal, bencana nuklir, kesalahan medis, bencana alam, dan
sebagainya.
1.
B. Langkah-langkah Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan terdiri atas rangkaian
kegiatan yang diawali oleh kegiatan mengumpulkan informasi dan berakhir pada
perumusan masalah. Adapun tahapan dalam langkah-langkah analisis kebutuhan
meliputi:
a. Pengumpulan informasi
Dalam merancang pembelajaran pertama kali
seorang desainer perlu memahami terlebih dahulu informasi tentang siswa dapat
mengerjakan apa, siapa memahami apa, siapa yang akan belajar, kendala-kendala
apa yang akan dihadapi, dan bagaimana pengaruh keadaan tertentu terhadap
karakteristik siswa. Berbagai informasi yang dikumpulkan akan bermanfaat dalam
menentukan tujuan yang ingin dicapai beserta skala prioritas dalam pemecahan
suatu masalah.
b. Identifikasi kesenjangan
Dalam identifikasi kesenjangan Kaufman dan
English (1979), menjelaskan identifikasi kesenjangan melalui Organizational
Elements Model (OEM). Dalam model OEM, Kaufman menjelaskan adanya lima elemen
yang saling berkaitan. Duaa elemen pertama, yaituj input dan proses adalah
bagaimana menggunakan setiap potensi dan sumber yang ada; sedangkan elemen
terakhir meliputi produk, output dan outcome merupakan hasil akhir dari suatu
proses.
Kategori kebutuhan seperti yang dikemukakan dalam OEM digambarkan
oleh Kaufman seperti gambar di bawah ini:
1) Input
2) Proses
3) Produk
4) Output
5) Outcome
Komponen input, meliputi kondisi yang tersedia
pada saat ini misalnya tentang keuangan, waktu, bangunan, guru, pelajar,
kebutuhan, problem, tujuan, materi kurikulum yang ada. Komponen proses,
meliputi pelaksanaan pendidikan yang berjalan yang terdiri atas pola
pembentukan staf, pendidikan yang berlangsung sesuai dengan kompetensi,
perencanaan, metode, pembelajaran individu, dan kurikulum yang berlaku.
Komponen produk, meliputi penyelesaian pendidikan, keterampilan, pengetahuan
dan sikap yang dimiliki, serta kelulusan tes kompetensi. Komponen Output,
meliputi ijazah kelulusan, keterampilan prasyarat, lisensi. Komponen Outcome
meliputi kecukupan dan kontribusi individu atau kelompok saat ini dan masa
depan. Outcome merupakan hasil akhir yang diperoleh. Melalui analisis hasil,
desainer dapat menentukan sejauh mana hasil yang diperoleh dapat berkontribusi
pada pencapaian tujuan. Inilah proses yang pada hakikatnya menentukan
kesenjangan antara harapan dan apa yang terjadi. Berdasarkan analisis itulah,
desainer dapat mendeskripsikan masalah dan kebutuhan pada setiap komponen yakni
input, proses, produk, dan output.
c. Analisis performance
Tahap ketiga dalam proses need assessment,
adalah tahap menganalisis performance. Menganalisis performance dilakukan
setelah desainer memahami berbagai informasi
dan mengidentifikasi kesenjangan yang ada. Ketika kita
menemukan adanya kesenjangan, selanjutnya kita identifikasi kesenjangan mana
yang dapat dipecahkan
melalui perencanaan pembelajaran dan mana yang memerlukan
pemecahan dengan cara lain, seperti melalui kebijakan pengelolaan baru,
penentuan struktur organisasi yang lebih baik, atau mungkin melalui
pengembangan bahan dan alat – alat. Untuk mennetukan semua itu kita perlu
memahami faktor – faktor penyebab terjadinya kesenjangan dan pemahaman tersebut
dapat dilakukan pada saat need assessment berlangsung.
Analisis performance meliputi:
1) Mengidentifikasi guru
2) Mengidentifikasi saran dan
kelengkapan penunjang
3) Mengidentifikasi berbagai
kebijakan sekolah
4) Mengidentifikasi iklim sosial
dan iklim sosiologi
Disamping semua unsur tersebut, masih ada unsur
lainnya yang perlu dianalisis, misalnya penerapan hukuman dan ganjaran, sistem
intensif yang diberikan baik pada guru maupun siswa.
d. Identifikasi hambatan
Tahap keempat dalam need assessment adalah
mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul beserta sumber-sumbernya. Dalam
pelaksanaan suatu program berbagai kendala bias muncul sehingga dapat
berpengaruh terhadap kelancaran suatu program. Berbagai kendala dapat meliputi,
waktu fasilitas, bahan, pengelompokan dan komposisinya, pilosofi, personal, dan
organisasi. Sumber-sumber kendala bisa berasal dari pertama, orang yang
terlibat dalam suatu program pembelajaran, misalnya guru-kepala sekolah, dan
siswa itu sendiri. Termasuk juga dalam unsure orang ini adalah unsure filsafat
atau pandangan yang terhadap pekerjaannya, motivasi kerja, dan kemampuan yang
dimilikinya. Kedua, fasilitas yang ada, di dalamnya meliputi ketersediaan
dan kelengkapan fasilitas serta kondisi fasilitas. Ketiga, berkaitan dengan
jumlah pendanaan beserta pengaturannya
e. Identifikasi
karakteristik siswa
Tahap kelima dalam need assessment adalah
mengidentifikasi siswa. Tujuan utama dalam desain pembelajaran adalah
memecahkan berbagai problema yang dihadapi siswa, oleh karena itu hal-hal yang
berkaitan dengan siswa adalah bagian dari need assessment. Identifikasi yang
berkaitan dengan siswa di antaranya adalah tentang usia, jenis kelamin,
level pendidikan, tingkat social ekonomi, latar belakang, gaya belajar, pengalaman
dan sikap. Karakteristik siswa seperti di atas, akan bermanfaat ketika kita
menentukan tujuan yang harus dicapai, pemilihan dan penggunaan strategi
pembelajaran yang di anggap cocok, serta untuk menentukan teknik evaluasi yang
relevan.
f. Identifikasi
prioritas, tujuan
Kaufman (1983) mendefinisikan need assessment
sebagai suatu proses mengidentifikasi, mendokumentasi dan menjustifikasi
kesenjangan antara apa yang terjadi dan apa yang akan dihasilkan melalui
penentuan skala prioritas dari setiap kebutuhan. Definisi yang dikemukakan oleh
Kaufman berhubungan erat dengan tujuan yang ingin dicapai. Oleh sebab itu,
mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai merupakan salah satu kegiatan yang
harus dilaksanakan dalam proses need assessment. Tidak semua kebutuhan menjadi
tujuan dalam desain intruksional. Seorang desainer perlu menetapkan
kebutuhan-kebutuhan apa yang dianggap mendesak untuk dipecahkan sesuai dengan
kondisi. Ini hakikatnya menentukan skala prioritas dalam need
assessment. Terdapat beberapa teknik dalam menentukan skala prioritas dari
data yang telah terkumpul. Misalnya teknik perangkingan meliputi Teknik Delphi,
Fokus Group Discussion, Q-Sort, dan Storyboarding. Teknik-teknik ini digunakan
untuk menjaring berbagai tujuan yang dianggap perlu melalui penilaian para ahli
yang terlibat pada diskusi. Dengan demikian, rumusan tujuan benar-benar hasil
suatu studi yang dibutuhkan dan diperlukan untuk dipecahkan
g. Merumuskan masalah
Tahap akhir dalam proses analisis masalah adalah
menuliskan pernyataan masalah sebagai pedoman dalam penyusunan proses desain
intruksional. Penulisan masalah pada dasarnya merupakan rangkuman atau sari
pati dari permasalahan yang ditentukan. Pernyataan masalah harus ditulis secara
singkat dan padat yang biasanya tidak lebih dari satu-dua paragraf. Salah satu
format yang sederhana dikembangkan oleh Jung, Pino dan Emory (1979), yang
dinamakan dengan RUPS (Research Utilizing Problem Solving). Tujuan RUP adalah
merumuskan latar belakang dan konteks permasalahan, bagaimana tipe permasalahan
dan memberikan tujuan berdasarkan permasalahan untuk dikembangkan. Teknik RUPS
merupakan teknik yang dianggap paling baik ketika kita ingin menjawab
permasalahan yang harus dipecahkan.
4. Analisis
Karakteristik Siswa
A. Pengertian Karakteristik Siswa
Karakteristik
siswa didefinisikan sebagai ciri dari kualitas perseorangan siswa yang
pada umumnya meliputi antara lain kemampuan akademik, usia dan tingkat
kedewasaan, motivasi terhadap mata pelajaran, pengalaman, keterampilan,
psikomotorik, kemampuan bekerja sama, keterampilan sosial. Menurut Syaiful
Sagala dalam Awar dkk (2011: 57) interksi antara peserta didi dan pendidik akan
menghasilkan kematangan yang tampak dari perubahan tingkah laku yang
dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari proses belajar.
Sementara itu Samsudin Makmum dalam Awar dkk (2011: 57-58) menjelaskan sacara
rinci tentang perubahan dalam konteks yang dilakukan siswa dapat bersifat
fungsional atau structural, material, behavioral, serta keseluruhan pribadi.
Lebih jauh ditegaskan Syaiful Sagala dalam Awar dkk (2011: 58) bahwa belajar
adalah proses orang memproleh berbagai kecakapan, keterampilan sikap sebagai
akibat dari sejumlah tindakan dan perilaku kompleks yang dialami oleh siswa
dalam belajar
Ada dua karakteristik
awal siswa perlu dipahami oleh guru yakni:
B. Latar belakang akademik mencakup
a. Jumlah siswa
Guru perlu memahami beberapaa jumlah siswa yang akan diajar untuk
mengetahui apakah mengajar pada kelas kecil atau kelas besar.
b. Latar belakang siswa
Pemahaman guru terhadap latar belakang siswa seperti latar
belakang keluarga, tingkat ekonomi, hobi dan lain sebagainya.
c. Indeks prestasi
Indeks prestasi juga menjadi penting untuk diketahui guru, agar
materi yang disajikan:
1) Dapat disesuaikan dengan tingkat prestasi yang
homogeny dapat ditempatkan pada kelas yang sama
2) Bahkan siswa yang memiliki tingakat prestasi
yang homogeny dapat ditempatkan pada kelas yang sama.
3) Guru juga bisa mempertimbangkan tingkat
keluasan dan kedalaman materi yang disampaikan dengan prestasi yang dimiliki
siswa.
Untuk mengetahui indeks siswa dapat diperoleh melalui nilai rapot
sebelumnya atau seleksi kemampuan awal siswa yang diselengarakan lembaga
d. Tingkat intelegsi
Memahami tingkat intelengsi siswa juga dapat mengukur dan
memprediksi:
1) Tingkat
kemampuan mereka dalam memahami materi pembelajaran
2) Mengukur
tingkat kedalaman dan keluasan materi
3) Bahkan
dengan memahami tingkat intelegensi siswa guru dapat menyusun materi, metode,
media, serta tingkat kesulitan evaluasi siswa
4) Tingkat
intelegensi siwa dapat diperoleh melalui tes intelengensi atau tes potensi
akademik (TPA).
e. Keterampilan membaca
Salah satu kecakapan yang harus dimiliki siswa dalam belajar
adalah keterampilan membaca, keterampilan adalah menyangkut tentang kemampuan
siswa dalam menyimpulkan secaracepat dan akurat tentang bacaan yang mereka
baca.
f. Nilai ujian
Nilai ujian juga dapat
dijadikan pedoman untuk memahami karaktersitik awal siswa.
g. Kebiasaan belajar/gaya
belajar
Gaya belajar mengacu pada acara belajar yang lebih disukai siswa.
Dalam proses pembelajaran, banyak siswa mengikutu belajar pada mata pelajaran
tertentu, diajar dengan menggunakan stategi yang sama, akan tetapi mempunyai
tingkat pemahaman yang berbeda. Gaya belajar sering sebagai karaktersitik dan
preferensi atau pilihan individu mengenai cara mengumpulkan informasi,
menafsirkan, mengorganisasikan, merespons, dan memikirkan informasi tersebut.
h. Minat belajar
Minat belajar dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam memahami
karaktersitik siswa. Hal ini dilakukan agar guru dapat memprediksi/ atau
melihat tingkat antusias siswa terhadap pelajaran yang disampaikan.
i. Harapan/keinginan
siswa
Hal ini dapat dilakukan dengan meminta siswa untuk mengemukakan
pendapatnya tentang harapan merekan terhadap mata pelajaran yang akan
diberikan, suasan yang diinginkan, serta tujuan yang diinginkan, serta tujuan
yang ingin diperoleh dari mata pelajaran yang disajikan.
j. Lapangan kerja/
cita-cita yang dinginkan
Hal ini dapat dilakukan dengan pengisian anglet. Sehingga
berdasarkan informasi ini guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi terhadap
siswa dalam upaya pencapaian cita-cita yang mereka inginkan.
C. Faktor sosial yang meliputi hal-hal berikut ini:
a. Usia
Memahami usia siswa akan berpengaruh terhadap pemilihan
pendekatan-pedekatan yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan
terhadap usia kanak-kanak tentu saja berbeda dengan pendekatan belajar yang
digunakankan terhadap anak remaja atau usia dewasa.
b. Kematangan
Kematangnan secara psikologi dapat menjadi pertimbangan guru dalam
memilihi pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkatusia/kesiapan siswa.
Kematangan intelektual terhadi pada anak usia 6/7 tahun anak sudah mulai
berpikir secara logis, baik dan buruk. Dan pada tahun berikutnya perkembangan
dan fungsi intelektual anak akan menuju kematangan seiring dengan proses
pembelajaran yang ia peroleh.
c. Rentangan perhatian (attention
span)
Rentang perhatian siswa adalah jumlah normal siswa dapat
berkonsentrasi dalam mendengarkan uraian pembelajaran. Rentang perhatian siswa
akan menetukan kualitasi informasi yang akan diperoleh siswa.
d. Bakat-bakat istimewa
Guru perlu memahami perbedaan bakat siswa agar dapat dikembangkan
secara optimal
e. Hubungan dengan sesama siswa
Berdasarkan penelitian ilmiah yang dilakukan hari iini, bahwa
interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan yang lainnya tidak lagi menjadi
hubungan secara sepihak tetapi lebih jauh merupakan hububgab emosional dan
simpatik lewat prosws belajar mengajar.
f. Keadaan sosial ekonomi
Secara kasat mata, dapat diperhatikan bahwa sebagian besar siswa
mengalami kendala dalam memahami kebutuhan sumber belajar sebagai akibat dari
rendahnya ekonomi keluarga. Berkenaan dengan itu, dibutuhkan kreativitas guru
dalam membuat/menentukan sumber belajar dan media yang terjangkau dan tersedia
dilingkungan belajar siswa.
D. Didalam menganalisis karakteristik
siswa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
a. karakteristik atau
keadaan yang berkenaan dengan kemampuan awal atau “prerequisite skills” seperti
kemampuan intelektual, kemampuan berfikir, mengucapkan dan kemampuan gerak atau
“psychomotor skills”, misalnya keterampilan menggerakkan tangan, kaki, dan
badan.
b. Karakteristik yang
berhubungan dengan latar belakang dan status social dan kebudayaan
(socialcultural)
c. Karakteristik yang
berkenaan dengan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian seperti : sikap,
perasaaan, minat dan sebgainya.
E. Teknik analisis
karakteristik awal siswa
a. Dengan menggunakan
catatan-catatan atau dokumen yang tersedia. Dokumen misalnya nilai Surat
Tanda Tamat Belajar (STTB), nilai rapor, nilai tes intelegensi, dan nilai tes
masuk catatan-catatan mengenai prestasi dalam berbagai budang kegiatan yang
pernah diperoleh, kesemuanya merupakan informasi yang sangat berguna untuk
mengetahui keadaan siswa
b. Dengan menggunakan tes
prasyarat dan tes awaa. Tes prasyarat adalah tes untuk mengetahui apakah siswa
telah memilih pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan atau disyaratkan
untuk mengikuti suatu pelajaran. Sedangkan tes awal adalah tes untuk mengetahui
seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan atau keterampilan mengenai
ajaran yang hendak diikuti.
c. Mengadakan konsultasi individual. Dengan
mengadakan konsultasi individual terhadap siswa, guru akan lebih dapat
mengadakan pendekatan secara personal untuk guru memperoleh informasi mengenai
minat, sikap, keinginan siswa dan sebagainya.
d. Dengan menyampaikan angket atau
questionnaire angket bias disususn kemudian disampaikan kepada siswa misalnya
untuk mengetahui gaya belajar mereka. Gaya belajar ada bermacam-macam misalnya:
dependent, independent, competitive, participant, dan sebagainya.