Rabu, 14 Maret 2018

Hakikat Pembelajaran, Desain Pembelajaran, Analisis Kebutuhan, dan Analisis Karakteristik Siswa

1.    Hakikat Pembelajaran
A.  Pengertian Pembelajaran
      Menurut Ahmar (2012: 10) Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan , penguasaan kemahiran dan tabiat , serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik.
          Menurut Dimyati dan Mudjiono (Ahmar 2012: 10) pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.
        Konsep pembelajaran menurut Corey (Ahmar 2012: 11) adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan.
       Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prsedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pemebalajaran. (Hamalik,1994)
          Dari beberapa pendapat ahli di atas, Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi yang dilakukan antara guru dengan siswa untuk pemerolehan ilmu dan pengetahuan dengan kegiatan belajar yang saling bertukar informasi. 
B. Komponen Pembelajaran
          Sumiati dan Asra (Ahmar 20012: 12) mengelompokkan komponen-komponen pembelajaran dalam tiga kategori utama, yaitu: guru, isi atau materi pembelajaran, dan siswa. Interaksi antara tiga komponen utama melibatkan metode pembelajaran, media pembelajaran, dan penataan lingkungan tempat belajar, sehingga tercipta situasi pembelajaran yang memungkinkan terciptanya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.
a.       Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran pada dasarnya merupakan harapan, yaitu apa yang diharapkan dari siswa sebagai hasil belajar. Robert F. Meager (Ahmar 2012: 12) memberi batasan yang lebih jelas tentang tujuan pembelajaran, yaitu maksud yang dikomunikasikan melalui peenyataan yang menggambarkan tentang perubahan yang diharapkan dari siswa.
Menurut H. Daryanto (Ahmar 2012: 12) tujuan pembelajaran adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki siswa sebagai akibat dari hasil pembelajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur.
Dari beberapa pendapat ahli di atas, Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran adalah perilaku hasil belajar yang diharapkan dapat dikuasi oleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.
b.      Materi Pembelajaran
Menurut Ahmar (2012:14) Materi pembelajaran pada dasarnya merupakan isi dari kurikulum, yakni berupa mata pelajaran atau bidang studi dengan topik/sub topik dan rinciannya. Materi pembelajaran disusun secara sistematis dengan mengikuti prinsip psikologi. Agar materi pembelajaran itu dapat mencerminkan target yang jelas dari perilaku siswa setelah mengalami proses belajar mengajar. Materi pembelajaran harus mempunyai lingkup dan urutan yang jelas. Lingkup dan urutan itu dibuat bertolak dari tujuan yang dirumuskan.
Syaiful Bahri Djamarah, dkk (Ahmar 2012: 15) menerangkan materi pembelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa materi pembelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan.
Dari beberapa pendapat ahli di atas, Jadi dapat disimpulkan bahwa materi pembelajaran adalah bahan pembelajaran untuk membantu pendidik dalam kegiatan belajar mengajar yang disusun secara sistematis berdasarkan kurikulum dengan tujuan yang telah dirumuskan.
Harjanto (Ahmar 2012: 15-17) menjelaskan beberapa kriteria pemilihan materi pembelajaran yang akan dikembangka dalam sistem pembelajaran dan yang mendasari penentuan strategi pembelajaran, yaitu:
1)   Kriteria tujuan pembelajaran.
2)   Materi pembelajaran supaya terjabar.
3)   Relevan dengan kebutuhan siswa.
4)   Kesesuaian dengan kondisi masyarakat.
5)   Materi pembelajaran mengandung segi-segi etik.
6)   Materi pembelajaran tersusun dalam ruang lingkup dan urutan yang sistematik dan logis.
7)   Materi pembelajaran bersumber dari buku sumber yang baku, pribadi guru yang ahli, dan masyarakat.
   c.       Metode Pembelajaran
  Menurut Ahmar (2012: 18) Metode pembelajaran merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Metode pembelajaran yang ditetapkan guru memungkinkan siswa untuk belajar proses, bukan hanya belajar produk.
Menurut Sumiati dan Asra (Ahmar, 20012: 18) ketepatan penggunaan metode pembelajaran tergantung pada kesesuaian metode pembelajaran materi pembelajaran, kemampuan guru, kondisi siswa, sumber atau fasilitas, situasi dan kondisi dan waktu.
Dari beberapa pendapat ahli di atas, Jadi dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah cara seorang pendidik dalam menyajikan sebuah pembelajaran sesuai dengan kemampuan guru untuk menciptakan pembelajaran yang kondusif yang menjadikan siswa tidak hanya belajar produk akan tetapi menjadikan siswa untuk belajar berporses.
 d.      Media Pembelajaran
Pembelajaran merupakan kegiatan yang melibatkan siswa dan guru dengan menggunakan berbagai sumber belajar baik dalam situasi kelas maupun di luar kelas. Dalam arti media yang digunakan untuk pembelajaran tidak terlalu identik dengan situasi kelas dalam pola pengajaran konvensional namunproses belajar tanpa kehadiran guru dan lebih mengandalkan media termasuk dalam kegiatan pembelajaran. Menurut Rudi Susilana dan Cepi Riyana (Ahmar, 2012: 19) mengklasifikasikan penggunaan media berdasarkan tempat penggunaannya, yaitu:
1)   Penggunaan media di kelas
2)   Penggunaan media di luar kelas
a)Penggunaan media tidak terprogram
b)    Penggunaan media secara terprogram
  
e.       Evaluasi Pembelajaran
  Lee J. Cronbach (Ahmar, 2012: 21) merumuskan bahwa evaluasi sebagai kegiatan pemeriksaan yang sistematis dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dan akibatnya pada saat program dilaksanakan pemeriksaan diarahkan untuk membantu memperbaiki program itu dan program lain yang memiliki tujuan yang sama.
Harjanto (2005: 277) evaluasi pembelajaran adalah penilaian atau penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan peserta didik kearah tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam hukum.
f.       Peserta didik/siswa
       Siswa merupakan salah satu komponen inti dari pembelajaran, karena inti dari proses pembelajaran adalah kegiatan belajar siswa dalam mencapai suatu tujuan. Menurut Slameto  (Ahmar 2012: 23) menyatakan belajar adalah proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
g.    Pendidik/guru
       Secara umum tugas guru adalah sebagai fasilitator, yang bertugas menciptakan situasi yang memungkinkan terjadinya proses belajar pada diri siswa. Menurut Suciati, dkk ( Ahmar 2012: 24) dalam menjalankan tugasnya sebagai fasilitator, ada dua tugas yang harus dikerjakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran yang efektif. Kedua tugas tersebut sebagai pengelola pembelajaran dan sebagai pengelola kelas.
h.    Lingkungan tempat belajar
       Lingkungan merupakan segala situasi yang ada disekitar kita. Suciati, dkk ( Ahmar 2012: 25) menjelaskan bahwa lingkungan belajar adalah situasi yang ada di sekitar siswa pada saat belajar. Situasi ini dapat mempengaruhi proses belajar siswa. M. Dalyono (2007: 129) juga menegaskan bahwa lingkungan itu sebenarnya mencakup segala material dan stimulus di dalam dan di luar individu,baik yang bersifat fisiologis, psikologis maupun sosio-kultural 
C.  Pengelolaan tempat pembelajaran
       Mengajar merupakan suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar mengajar. Tugas dan tanggung jawab seorang guru adalah mengelola proses belajar mengajar yang selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas belajar.
           Menurut Sumiati dan Asra dalam Ahmar (2012) peran guru dalam pembelajaran yang dapat membangkitkan aktivitas siswa setidak-tidaknya menjalankan tugas utama, berikut ini:
a.       Merencanaan pembelajaran, yang terinci dalam empat sub kemampuan yaituperumusan tujuan pembelajaran, penetapan materi pembelajaran, penetapan kegiatan belajar mengajar, penetapan metode dan media pembelajaran, penetapan alat evaluasi
b.      Pelaksanaan pengajaran yang termasuk di dalamnya adalah penilaian pencapaian tujuan pembelajaran
c.       Mengevaluasi pembelajaran dimana evaluasi ini merupakan salah satu komponen pengukur derajat keberhasilan pencapaian tujuan, dan keefektifan proses pembelajaran yang dilaksanakan
d.      Memberikan umpan balik. umpan balik mempunyai fungsi untuk membantu siswa memelihara minat dan antusias siswa dalam melaksanakan tugas belajar.

2.      Model Desain Pembelajaran
A.  Pengertian Desain Pembelajaran
     Menurut Gagne dalam Sanjaya (2008: 66) menyatakan bahwa desain pembelajaran disusun untuk membantu proses belajar peserta didik, proses belajar tersebut memiliki tahapan saat ini dan tahapan jangka panjang. Menurut Gagne, belajar seseorang dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor internal dan eksternal.
a.       Faktor internal adalah faktor yg berkaitan dengan kondisi yang dibawa atau datang dari dalam individu siswa, seperti kemampuan dasar, gaya belajar seseorang, minat dan bakat serta kesiapan setiap individu yang belajar.
b.      Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar individu, yakni berkaitan dengan penyediaan kondisi atau lingkungan yang didesain agar siswa belajar. Desain pembelajaran berkaitan dengan faktor eksternal ini, yakni pengaturan lingkungan dan kondisi yg memungkinkan siswa dapat belajar. 
         Gentry dalam Sanjaya (2008: 67) bahwa desain pembelajaran berkenaan dengan proses menentukan tujuan pembelajaran, strategi dan teknik untuk mencapai tujuan serta merancang media yang dapat digunakan untuk keefektifan pencapaian tujuan. Menurut Sujarwo ( : 3) Desain pembelajaran adalah pengembangan secara sistematis dari spesifikasi pembelajaran dengan menggunakan teori belajar dan pembelajaran untuk menjamin kualitas pembelajaran.
           Dari beberapa pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa desain pembelajaran adalah penyusunan media pembelajaran dengan menggunakan teknologi berupa komunikasi dan isi pembelajaran yang dapat membantu antara guru dan peserta didik terjadinya transfer pengetahuan secara efektif.
B.  Kriteria Desain Instruksional
   Menurut Sanjaya (2008: 68-69) Desain instruksional yang baik harus memiliki beberapa kriteria di antaranya :
a.     Berorientasi pada siswa
Mendesain pembelajaran perlu di awali dengan melakukan studi pendahuluan tentang siswa diantaranya :
1)   Kemampuan dasar
Pemahaman kemampuan dasar yang dimiliki siswa perlu dipahami untuk menentukan dari mana sebaiknya kita memulai mendesain pembelajaran. Dalam menentukan tujuan pembelajaran yang harus dicapai selamanya  disesuaikan dengan kemampuan yang telah atau harus dimiliki terlebih dahulu oleh setiap siswa. Dengan demikian, desain pembelajaran dirancang sesuai dengan potensi dan kompetensi yang telah dimiliki oleh siswa. Dengan kata lain desain tidak dirancang semata-mata oleh kemauan dan kehendak guru.
2)   Gaya belajar
Gaya belajar setiap siswa memeiliki perbedaan Deporter membagi kedalam tiga tipe, yakni tipe auditif, tipe visual, dan tipe kinetetis. Siswa yang bertipe auditif akan menangkap informasi lebih banyak melalui pendengaran, dengan demikian desain pembelajaran dirancang agar siswa lebih banyak mendengar melalui berbagai media yang dapat didengar seperti radio atau tape recorder.
b.    Berpijak pada pendekatan sistem
Sistem adalah satu kesatuan komponen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan. Melalui pendekatan sistem, bukan saja dapat diprediksi keberhasilannya, akan tetapi juga terhindar dari ketidakpastian. Hal ini disebabkan melalui pendekatan sistem dari awal sudah diantisipasi berbagai kendala yang mungkin dapat menghambat terhadap pencapaian tujuan. Atas dasar itulah, maka pendekatan sistem dalam desain instruksional merupakan pendekatan ideal yang dapat dilakukan oelh para desainer pembelajaran. ‘
c.    Teruji secara empiris
Sebelum diguanakan, sebuah desain instrusional harus teruji dahulu efektivitas dan efisiensinya secara empiris. Melalui pengujian secara empiris dapat dilihat berbagai kelemahan dan berbagai kendala yang mungkin muncul sehingga jaub sebelumnya dapat diantisipasi. Selain itu, melalui pengkajian ilmiah dapat meyakinkan para pengembang pembelajaran untuk menggunakannya.
C.  Hubungan perencanaan dan desain pembelajaran
           Perencanaan pembelajaran berbeda dengan desain pembelajaran, namun keduanya memiliki hubungan yang sangat erat sebagai program pembelajaran. Perencanaan pembelajaran disusun untuk kebutuhan guru dalam melaksanakan tugas mengajarnya. Dengan demikian, perencanaan merupakan kegiatan menerjemahkan kurikulum sekolah kedalam kegiatan pembelajaran dikelas, (Shambaugh dan Magliaro dalam sanjaya ( 2008: 69). Walaupun perencanaan pembelajaran berkaiatan dengan desain pembelajaran, keduanya memiliki posisi yang berbeda. Perencanaan lebih menekankan pada proses pengembangan atau penerjemahan suatu kurikulum sekolah, sedangkan desain menekankan pada proses merancang program pembelajaran untuk membantu proses belajar siswa .
D.  Model-Model Desain Pembelajaran
Model desain sistem pembelajaran berperan sebagai alat konseptual, pengelolaan, komunikasi untuk menganalisis, merancang, menciptakan, mengevaluasi program pembelajaran, dan program pelatihan. Pada umumnya, setiap desain sistem pembelajaran memiliki keunikan dan perbedaan dalam langkah-langkah dan prosedur yang digunakan. Perbedaan juga kerap terdapat pada istilah-istilah yang digunakan. Namun demikian, model-model desain tersebut memiliki dasar prinsip yang sama dalam upaya merancang program pembelajaran yang berkualitas. Dalam desain pembelajaran dikenal beberapa model yang dikemukakan oleh para ahli. Beberapa contoh dari model desain pembelajaran diuraikan secara lebih jelas berikut ini:
a.    Model Dick and Carey
Model yang dikembangkan didasarkan pada penggunaan pendekatan sistem terhadap komponen-komponen dasar desain pembelajaran yang meliputi analisis desain pengembangan, implementasi dan evaluasi. Adapun komponen dan sekaligus merupakan langkah-langkah utama dari model desain pembelajaran yang dikemukakan oleh Dick, Carey & Carey (2009) adalah:
1)   Identifikasi tujuan pembelajaran khusus
Langkah pertama yang dilakukan dalam menerapkan model pembelajaran ini, adalah menentukuan kemampuan atau kompetensi yang perlu dimiliki peserta didik setelah menempuh program pembelajaran. Hal ini kompetensi yang harus dimiliki peserta didik adalah pemahaman tentang materi perkuliahan.
2)   Analisis instruksional
Setelah melakukan identifikasi tujuan pembelajaran, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis instruksional yaitu sebuah prosedur yang digunakan untuk menentukan ketrampilan dan pengetahuan yang relevan dan diperlukan oleh peserta didik untuk mencapai kompetensi. Antara lain pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang perlu dimiliki peserta didik setelah mengikuti pembelajaran..
3)   Analisis peserta didik dan konteks
Selanjutnya analisis terhadap karakteristik peserta didik yang akan belajar dan konteks pembelajaran. Analisis konteks meliputi kondisi-kondisi terkait dengan ketrampilan yang dipelajari peserta didik dan situasi tugas yang dihadapi peserta didik untuk menerapkan pengetahuan dan ketrampilan yang dipelajari, sedang analisis karakteristik peserta didik adalah kemampuan aktual yang dimiliki peserta didik. 
4)   Merumuskan Tujuan Pembelajaran Khusus
Dengan dasar analisis instruksional tersebut, maka dirumuskan tujuan pembelajaran khusus yang akan menjadi harapan/gambaran dari perilaku peserta didik setelah menerima pelajaran. Dalam pengembanganya tujuan pembelajaran khusus/indikator ini adalah perubahan perilaku pengetahuan mengenai materi perkuliahan.
5)   Mengembangkan alat penilaian
Alat penilaian ini menjadi salah satu feedback dalam pembelajaran untuk mengetahui ketercapain tujuan dan kompetensi khusus yang telah dirumuskanya. Dalam pengembangnya alat evaluasi ini adalah performance peserta didik setelah menerima pelajaran. Apakah tingkat pemahaman peserta didik meningkat atau tidak.
6)   Mengembangkan strategi pembelajaran
Strategi pembelajaran yang dipilih adalah strategi pembelajaran yang dapat dijadikan jembatan/media transformasi apakah mendukung ketercapaian kompetensi yang telah dirumuskan.
7)   Pengembangan bahan ajar
     Dalam langkah ini, pengembangan bahan ajar disesuaikan dengan tujuan pembelajaran/kompetensi yang telah dirumuskan, serta disesuaikan dengan strategi pembelajaran yang digunakan..
8)   Merancang evaluasi formatif
Setelah draft rancangan tentang program pembelajaran selesai dikembangkan, maka evaluasi formatif ini berfungsi sebagai alat untuk mengumpulkan data kekuatan dan kelemahan program pembelajaran yang telah dirancang. Model ini dikembangkan dengan menguji cobakan pada kelas kelompok kecil misalnya 2 atau 3 peserta didik atau 10 orang peserta didik dalam diskusi terbatas.
9)   Melakukan revisi terhadap program pembelajaran
Langkah ini dilakukan setelah mendapatkan masukan dari evaluasi formatif terhadap draf program. Pada langkah ini, tidak hanya mengevaluasi terhadap draf program saja, akan tetapi pada semua sistem pembelajaran mulai dari analisis instruksional sampai evaluasi formatif.
10)  Melakukan evaluasi sumatif
Evaluasi sumatif merupakan evaluasi puncak terhadap program pembelajaran yang telah dirancang, setelah program tersebut dilakukan evaluasi formatif dan dilakukan revisi-revisi terhadap produk, maka evaluasi sumatif dilakukan.
b.     Model Kemp
Menurut Morisson, Ross, dan Kemp (2004), model desain sistem pembelajaran ini akan membantu pendidik sebagai perancang program atau kegiatan pembelajaran dalam memahami kerangka teori dengan lebih baik dan menerapakan teori tersebut untuk menciptakan aktivitas pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Desain pembelajaran model Kemp dapat dijelaskan dengan sebuah bagan berikut:
Secara singkat, menurut model ini terdapat beberapa langkah, yaitu:
1)   Menentukan tujuan dan daftar topik, menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap topiknya;
2)   Menganalisis karakteristik peserta didik, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain;
3)   Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolok ukur perilaku peserta didik;
4)   Menentukan isi materi pelajar yang dapat mendukung tiap tujuan;
5)   Pengembangan penilaian awal untuk menentukan latar belakang peserta didik dan pemberian level pengetahuan terhadap suatu topik;
6)   Memilih aktivitas dan sumber pembelajaran yang menyenangkan atau menentukan strategi pembelajaran, jadi peserta didik akan mudah menyelesaikan tujuan yang diharapkan;
7)   Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran;
8)   Mengevaluasi pembelajaran peserta didik dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari perencanaan yang membutuhkan perbaikan yang terus menerus, evaluasi yang dilakukan berupa evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
c.     Model ADDIE
       Ada satu model desain pembelajaran yang lebih sifatnya lebih generik yaitu model ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). ADDIE muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda. Salah satu fungsinya ADDIE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri. Model ini menggunakan lima tahap pengembangan yakni: a) Analysis (analisa), b) Design (disain/perancangan), c) Development (pengembangan), d) Implementation (implementasi/eksekusi), e) Evaluation (evaluasi/umpan balik).
d.   Model Hanafin and Peck
Model Hannafin dan Peck ialah model desain pengajaran yang terdiri daripada tiga fase, yaitu fase analisis kebutuhan, fase desain dan fase pengembangan atau implementasi. Dalam model ini, penilaian dan pengulangan perlu dijalankan dalam setiap fase. Model ini adalah model desain pembelajaran berorientasi produk.
e.    Model Isman
   Pembelajaran disain model Isman dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1)input (identifikasi kebutuhan, isi, tujuan, metode, materi dan media), 2) proses (protootipe test, disain ulang pembelajaran, kegiatan pembelajaran), 3) output (testing dan analisis hasil), 4) umpan balik, 5) pembelajaran.
f.     Model Banathy
Model ini memandang bahwa penyusunan sistem instruksional dilakukan melalui tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahapan dalam mendesain suatu program pembelajaran yakni:
a. Menganalisis dan merumuskan tujuan, baik tujuan pengembangan sistem maupun pengembangan spesifik. Tujuan merupakan sasaran dan arah yang harus dicapai oleh siswa atau peserta didik.
b.    Merumuskan kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Item tes dalam tahap ini dirumuskan untuk menilai perumusan tujuan. Melalui rumusan tes dapat menyakinkan kita bahwa setiap tujuan ada alat untuk menilai keberhasilannya.
c.       Menganalisis dan merumuskan kegiatan belajar, yakni kegiatan menginventarisasi seluruh kegiatan belajar mengajar, menilai kemampuan penerapannya sesuai dengan kondisi yang ada serta menentukan kegiatan yang mungkin dapat diterapkan.
d.  Merancang sistem, yaitu kegiatan menganalisis sistem menganalisis setiap komponen sistem, mendistribusikan dan mengatur penjadwalan.
e.   Mengimplementasikan dan melakukan kontrol kualitas sistem, yakni melatih sekaligus menilai efektivitas sistem, melakukan penempatan dan melaksanakan evaluasi
f.       Mengadakan perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi.
Langka 1 s.d 4 merupakan tahapan dalam proses perencanaan, sedangkan tahap 5 s.d 6 adalah tahap pelaksanaan dari perencanaan yang sudah dirumuskan.
g.    Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional) ( Sanjaya 2008: 66-67)
   Model PPSI adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975. PPSI berfungsi untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar
PPSI terdiri dari 5 tahap :
1)      Merumuskan tujaun, yakni kemampuan yang harus dicapai oleh siswa. Ada 4 syarat dalam perumusan tujuan ini yakni harus operasional, artinya tujuan yang dirumuskan harus spesifik atau dapat diukur, berbentuk hasil belajar bukan proses belajar, berbentuk perubahan tingkah laku dan dalam setiap rumusan tujuan hanya satu bentuk tingkah laku.
2)      Mengembangkan alat evaluasi, yakni menentukan jenis tes dan menyusun item soal untuk masing-masing tujuan. Alat evaluasi disimpan pada tahap 2 setelah rumusan tujuan untuk meyakinkan ketepatan tujuan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
3) Mengembangkan kegiatan belajar mengajar, yakni merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar dan menyeleksi kegiatan belajar perlu ditempuh.
4)  Mengembangkan program kegiatan pembelajaran yakni merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode dan memilih alat dan sumber pelajaran.
5)      Pelaksanaan program, yaitu kegiatan mengadakan prates, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan psikotes dan melakukan perbaikan. 
3.      Analisis Kebutuhan
A.  Konsep Kebutuhan Pembelajaran
        Menurut Abidin (2007:61) Kesenjangan adalah sebuah permasalahan yang harus dipecahkan karena itu kesenjangan dijadikan suatu kebutuhan dalam merancang pembelajaran, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan merupakan solusi terbaik. Menurut M. Atwi Suparman dalam Abidin (2007 : 61) kebutuhan adalah kesenjangan antara keadaan sekarang dengan yang seharusnya dalam redaksi yang berbeda tapi sama. Morrison dalam Abidin (2007:61), mengatakan bahwa kebutuhan (need) diartikan sebagai kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan kondisi yang sebenarnya, keinginan adalah harapan ke depan atau cita-cita yang terkait dengan pemecahan terhadap suatu masalah. Sedangkan analisa kebutuhan adalah alat untuk mengidentifikasi masalah guna menentukan tindakan yang tepat. (Morrison dalam Abidin, 2007: 61)
         Analisi kebutuhan merupakan aktivitas ilmiah untuk mengidentifikasi factor-faktor pendukung dan pebghambat proses pembelajaran guna memilih dan menentukan media yang tepat dan relevan mencapai tujuan pembelajaran dan mengarah pada peningkatan mutu pendidikan.
              Menurut Anderson analisis kebutuhan (Need Assessment) diartikan sebagai suatu proses kebutuhan sekaligus menentukan prioritas. Analisis kebutuhan adalah suatu cara atau metode  untuk mengetahui perbedaan anatara kondisi yang diinginkan/seharunya atau diharapkan dengan kondisi yang ada. Kondisi yang diinginkan seringkali disebut dengan kondisi ideal, sedangkan kondisi yang ada seringkali disebut dengan kondisi atau kondisi yang nyata.
          Menurut Morrison dalam Abidin (2007: 61-62) membagi fungsi analisa kebutuhan sebagai berikut:
a.       Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
b.      Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain yang menggangu pekerjaan atau lingkungan pendidikan
c.       Menyajikan prioritas-prioritas untuk memilih tindakan.
d.      Memberikan data basis untuk menganalisa efektifitas pembelajaran. 
Ada enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan  analisa kebutuhan (Morrison dalam Abidin, 2007: 62).
a.       Kebutuhan Normatif, Membandingkan peserta didik dengan standar nasional, misal, Ebtanas, UMPTN, dan sebagainya.
b.      Kebutuhan Komperatif, membandingkan peserta didik pada satu kelompok dengan kelompok lain yang selevel. Misal, hasil Ebtanas SLTP A dengan SLTP
c.        Kebutuhan yang dirasakan, yaitu hasrat atau keinginan yang dimiliki masing-masing peserta didik yang perlu ditingkatkan. Kebutuhan ini menunjukan kesenjangan antara tingkat ketrampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Cara terbaik untuk mengidentifikasi kebutuhan ini dengan cara interview.
d.       Kebutuhan yang diekspresikan, yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu diekspresikan dalam tindakan. Misal, siswa yang mendaftar sebuah kursus.
e.        Kebutuhan Masa Depan, Yaitu mengidentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi di masa mendatang. Misal, penerapan teknik pembelajaran yang baru, dan sebagainya.
f.        Kebutuhan Insidentil yang mendesak, yaitu faktor negatif yang muncul di luar dugaan yang sangat berpengaruh. Misal, bencana nuklir, kesalahan medis, bencana alam, dan sebagainya.
1.      B.  Langkah-langkah Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan terdiri atas rangkaian kegiatan yang diawali oleh kegiatan mengumpulkan informasi dan berakhir pada perumusan masalah. Adapun tahapan dalam langkah-langkah analisis kebutuhan meliputi:
a.       Pengumpulan informasi
Dalam merancang pembelajaran pertama kali seorang desainer perlu memahami terlebih dahulu informasi tentang siswa dapat mengerjakan apa, siapa memahami apa, siapa yang akan belajar, kendala-kendala apa yang akan dihadapi, dan bagaimana pengaruh keadaan tertentu terhadap karakteristik siswa. Berbagai informasi yang dikumpulkan akan bermanfaat dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai beserta skala prioritas dalam pemecahan suatu masalah.
b.      Identifikasi kesenjangan
Dalam identifikasi kesenjangan Kaufman dan English (1979), menjelaskan identifikasi kesenjangan melalui Organizational Elements Model (OEM). Dalam model OEM, Kaufman menjelaskan adanya lima elemen yang saling berkaitan. Duaa elemen pertama, yaituj input dan proses adalah bagaimana menggunakan setiap potensi dan sumber yang ada; sedangkan elemen terakhir meliputi produk, output dan outcome merupakan hasil akhir dari suatu proses.
Kategori kebutuhan seperti yang dikemukakan dalam OEM digambarkan oleh Kaufman seperti gambar di bawah ini:
1)      Input
2)      Proses
3)      Produk
4)      Output
5)      Outcome
Komponen input, meliputi kondisi yang tersedia pada saat ini misalnya tentang  keuangan, waktu, bangunan, guru, pelajar, kebutuhan, problem, tujuan, materi kurikulum yang ada. Komponen proses, meliputi pelaksanaan pendidikan yang berjalan yang terdiri atas pola pembentukan staf, pendidikan yang berlangsung sesuai dengan kompetensi, perencanaan, metode, pembelajaran individu, dan kurikulum yang berlaku. Komponen produk, meliputi penyelesaian pendidikan, keterampilan, pengetahuan dan sikap yang dimiliki, serta kelulusan tes kompetensi. Komponen Output, meliputi ijazah kelulusan, keterampilan prasyarat, lisensi. Komponen Outcome meliputi kecukupan dan kontribusi individu atau kelompok saat ini dan masa depan. Outcome merupakan hasil akhir yang diperoleh. Melalui analisis hasil, desainer dapat menentukan sejauh mana hasil yang diperoleh dapat berkontribusi pada pencapaian tujuan. Inilah proses yang pada hakikatnya menentukan kesenjangan antara harapan dan apa yang terjadi. Berdasarkan analisis itulah, desainer dapat mendeskripsikan masalah dan kebutuhan pada setiap komponen yakni input, proses, produk, dan output.
c.       Analisis performance
Tahap ketiga dalam proses need assessment, adalah tahap menganalisis performance. Menganalisis performance  dilakukan setelah desainer memahami berbagai informasi
dan mengidentifikasi  kesenjangan yang ada. Ketika kita menemukan adanya kesenjangan, selanjutnya kita identifikasi kesenjangan mana yang dapat dipecahkan
melalui perencanaan pembelajaran dan mana yang memerlukan pemecahan dengan cara lain, seperti melalui kebijakan pengelolaan baru, penentuan struktur organisasi yang lebih baik, atau mungkin melalui pengembangan bahan dan alat – alat. Untuk mennetukan semua itu kita perlu memahami faktor – faktor penyebab terjadinya kesenjangan dan pemahaman tersebut dapat dilakukan pada saat need assessment berlangsung.
Analisis performance meliputi:
1)      Mengidentifikasi guru
2)      Mengidentifikasi saran dan kelengkapan penunjang
3)      Mengidentifikasi berbagai kebijakan sekolah
4)      Mengidentifikasi iklim sosial dan iklim sosiologi
Disamping semua unsur tersebut, masih ada unsur lainnya yang perlu dianalisis, misalnya penerapan hukuman dan ganjaran, sistem intensif yang diberikan baik pada guru maupun siswa.
d.      Identifikasi hambatan
Tahap keempat dalam need assessment adalah mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul beserta sumber-sumbernya. Dalam pelaksanaan suatu program berbagai kendala  bias muncul sehingga dapat berpengaruh terhadap kelancaran suatu program. Berbagai kendala dapat meliputi, waktu fasilitas, bahan, pengelompokan dan komposisinya, pilosofi, personal, dan organisasi. Sumber-sumber kendala bisa berasal dari pertama, orang yang terlibat dalam suatu program pembelajaran, misalnya guru-kepala sekolah, dan siswa itu sendiri. Termasuk juga dalam unsure orang ini adalah unsure filsafat atau pandangan yang terhadap pekerjaannya, motivasi kerja, dan kemampuan yang dimilikinya. Kedua, fasilitas yang ada, di dalamnya  meliputi ketersediaan dan kelengkapan fasilitas serta kondisi fasilitas. Ketiga, berkaitan dengan jumlah pendanaan beserta pengaturannya
e.       Identifikasi karakteristik siswa
Tahap kelima dalam need assessment adalah mengidentifikasi siswa. Tujuan utama dalam desain pembelajaran adalah memecahkan berbagai problema yang dihadapi siswa, oleh karena itu hal-hal yang berkaitan dengan siswa adalah bagian dari need assessment. Identifikasi yang berkaitan dengan siswa di antaranya  adalah tentang usia, jenis kelamin, level pendidikan, tingkat social ekonomi, latar belakang, gaya belajar, pengalaman dan sikap. Karakteristik siswa seperti di atas, akan bermanfaat ketika kita menentukan tujuan yang harus dicapai, pemilihan dan penggunaan strategi pembelajaran yang di anggap cocok, serta untuk menentukan teknik evaluasi yang relevan.
f.       Identifikasi prioritas, tujuan
Kaufman (1983) mendefinisikan need assessment sebagai suatu proses mengidentifikasi, mendokumentasi dan menjustifikasi kesenjangan antara apa yang terjadi dan apa yang akan dihasilkan melalui penentuan skala prioritas dari setiap kebutuhan. Definisi yang dikemukakan oleh Kaufman berhubungan erat dengan tujuan yang ingin dicapai. Oleh sebab itu, mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai merupakan salah satu kegiatan yang harus dilaksanakan dalam proses need assessment. Tidak semua kebutuhan menjadi tujuan dalam desain intruksional. Seorang desainer perlu menetapkan kebutuhan-kebutuhan apa yang dianggap mendesak untuk dipecahkan sesuai dengan kondisi. Ini hakikatnya menentukan skala prioritas dalam need assessment. Terdapat beberapa teknik dalam menentukan skala prioritas dari data yang telah terkumpul. Misalnya teknik perangkingan meliputi Teknik Delphi, Fokus Group Discussion, Q-Sort, dan Storyboarding. Teknik-teknik ini digunakan untuk menjaring berbagai tujuan yang dianggap perlu melalui penilaian para ahli yang terlibat pada diskusi. Dengan demikian, rumusan tujuan benar-benar hasil suatu studi yang dibutuhkan dan diperlukan untuk dipecahkan
g.      Merumuskan masalah
Tahap akhir dalam proses analisis masalah adalah menuliskan pernyataan masalah sebagai pedoman dalam penyusunan proses desain intruksional. Penulisan masalah pada dasarnya merupakan rangkuman atau sari pati dari permasalahan yang ditentukan. Pernyataan masalah harus ditulis secara singkat dan padat yang biasanya tidak lebih dari satu-dua paragraf. Salah satu format yang sederhana dikembangkan oleh Jung, Pino dan Emory (1979), yang dinamakan dengan RUPS (Research Utilizing Problem Solving). Tujuan RUP adalah merumuskan latar belakang dan konteks permasalahan, bagaimana tipe permasalahan dan memberikan tujuan berdasarkan permasalahan untuk dikembangkan. Teknik RUPS merupakan teknik yang dianggap paling baik ketika kita ingin menjawab permasalahan yang harus dipecahkan.
4.      Analisis Karakteristik Siswa
A.  Pengertian Karakteristik Siswa
            Karakteristik siswa didefinisikan sebagai ciri dari kualitas perseorangan siswa  yang pada umumnya meliputi antara lain kemampuan akademik, usia dan tingkat kedewasaan, motivasi terhadap mata pelajaran, pengalaman, keterampilan, psikomotorik, kemampuan bekerja sama, keterampilan sosial. Menurut Syaiful Sagala dalam Awar dkk (2011: 57) interksi antara peserta didi dan pendidik akan menghasilkan kematangan yang tampak dari perubahan tingkah laku yang dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari proses belajar. Sementara itu Samsudin Makmum dalam Awar dkk (2011: 57-58) menjelaskan sacara rinci tentang perubahan dalam konteks yang dilakukan siswa dapat bersifat fungsional atau structural, material, behavioral, serta keseluruhan pribadi. Lebih jauh ditegaskan Syaiful Sagala dalam Awar dkk (2011: 58) bahwa belajar adalah proses orang memproleh berbagai kecakapan, keterampilan sikap sebagai akibat dari sejumlah tindakan dan perilaku kompleks yang dialami oleh siswa dalam belajar
       Ada dua karakteristik awal siswa perlu dipahami oleh guru yakni:
B.  Latar belakang akademik mencakup
a.    Jumlah siswa
Guru perlu memahami beberapaa jumlah siswa yang akan diajar untuk mengetahui apakah mengajar pada kelas kecil atau kelas besar.
b.    Latar belakang siswa
Pemahaman guru terhadap latar belakang siswa seperti latar belakang keluarga, tingkat ekonomi, hobi dan lain sebagainya.
c.       Indeks prestasi
Indeks prestasi juga menjadi penting untuk diketahui guru, agar materi yang disajikan:
1)   Dapat disesuaikan dengan tingkat prestasi yang homogeny dapat ditempatkan pada kelas yang sama
2)   Bahkan siswa yang memiliki tingakat prestasi yang homogeny dapat ditempatkan pada kelas yang sama.
3)   Guru juga bisa mempertimbangkan tingkat keluasan dan kedalaman materi yang disampaikan dengan prestasi yang dimiliki siswa.
Untuk mengetahui indeks siswa dapat diperoleh melalui nilai rapot sebelumnya atau seleksi kemampuan awal siswa yang diselengarakan lembaga
d.      Tingkat intelegsi
Memahami tingkat intelengsi siswa juga dapat mengukur dan memprediksi:
1)    Tingkat kemampuan mereka dalam memahami materi pembelajaran
2)    Mengukur tingkat kedalaman dan keluasan materi
3)    Bahkan dengan memahami tingkat intelegensi siswa guru dapat menyusun materi, metode, media, serta tingkat kesulitan evaluasi siswa
4)    Tingkat intelegensi siwa dapat diperoleh melalui tes intelengensi atau tes potensi akademik (TPA).
e.       Keterampilan membaca
Salah satu kecakapan yang harus dimiliki siswa dalam belajar adalah keterampilan membaca, keterampilan adalah menyangkut tentang kemampuan siswa dalam menyimpulkan secaracepat dan akurat tentang bacaan yang mereka baca.
f.       Nilai ujian
Nilai ujian juga dapat dijadikan pedoman untuk memahami karaktersitik awal siswa.
g.      Kebiasaan belajar/gaya belajar
Gaya belajar mengacu pada acara belajar yang lebih disukai siswa. Dalam proses pembelajaran, banyak siswa mengikutu belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar dengan menggunakan stategi yang sama, akan tetapi mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda. Gaya belajar sering sebagai karaktersitik dan preferensi atau pilihan individu mengenai cara mengumpulkan informasi, menafsirkan, mengorganisasikan, merespons, dan memikirkan informasi tersebut.
h.      Minat belajar
Minat belajar dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam memahami karaktersitik siswa. Hal ini dilakukan agar guru dapat memprediksi/ atau melihat tingkat antusias siswa terhadap pelajaran yang disampaikan.
i.        Harapan/keinginan siswa
Hal ini dapat dilakukan dengan meminta siswa untuk mengemukakan pendapatnya tentang harapan merekan terhadap mata pelajaran yang akan diberikan, suasan yang diinginkan, serta tujuan yang diinginkan, serta tujuan yang ingin diperoleh dari mata pelajaran yang disajikan.
j.        Lapangan kerja/ cita-cita yang dinginkan
Hal ini dapat dilakukan dengan pengisian anglet. Sehingga berdasarkan informasi ini guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi terhadap siswa dalam upaya pencapaian cita-cita yang mereka inginkan.
C.  Faktor sosial yang meliputi hal-hal berikut ini:
a.    Usia
Memahami usia siswa akan berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan-pedekatan yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan terhadap usia kanak-kanak tentu saja berbeda dengan pendekatan belajar yang digunakankan terhadap anak remaja atau usia dewasa. 
b.    Kematangan
Kematangnan secara psikologi dapat menjadi pertimbangan guru dalam memilihi pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkatusia/kesiapan siswa. Kematangan intelektual terhadi pada anak usia 6/7 tahun anak sudah mulai berpikir secara logis, baik dan buruk. Dan pada tahun berikutnya perkembangan dan fungsi intelektual anak akan menuju kematangan seiring dengan proses pembelajaran yang ia peroleh.
c.    Rentangan perhatian  (attention span)
Rentang perhatian siswa adalah jumlah normal siswa dapat berkonsentrasi dalam mendengarkan uraian pembelajaran. Rentang perhatian siswa akan menetukan kualitasi informasi yang akan diperoleh siswa.
d.   Bakat-bakat istimewa
Guru perlu memahami perbedaan bakat siswa agar dapat dikembangkan secara optimal
e.    Hubungan dengan sesama siswa
Berdasarkan penelitian ilmiah yang dilakukan hari iini, bahwa interaksi antara guru dan siswa, siswa dengan yang lainnya tidak lagi menjadi hubungan secara sepihak tetapi lebih jauh merupakan hububgab emosional dan simpatik lewat prosws belajar mengajar.
f.     Keadaan sosial ekonomi
Secara kasat mata, dapat diperhatikan bahwa sebagian besar siswa mengalami kendala dalam memahami kebutuhan sumber belajar sebagai akibat dari rendahnya ekonomi keluarga. Berkenaan dengan itu, dibutuhkan kreativitas guru dalam membuat/menentukan sumber belajar dan media yang terjangkau dan tersedia dilingkungan belajar siswa.
D.  Didalam menganalisis karakteristik siswa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
a.    karakteristik atau keadaan yang berkenaan dengan kemampuan awal atau “prerequisite skills” seperti kemampuan intelektual, kemampuan berfikir, mengucapkan dan kemampuan gerak atau “psychomotor skills”, misalnya keterampilan menggerakkan tangan, kaki, dan badan.
b.    Karakteristik yang berhubungan dengan latar belakang dan status social dan kebudayaan (socialcultural)
c.    Karakteristik yang berkenaan dengan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian seperti : sikap, perasaaan, minat dan sebgainya.
E.   Teknik analisis karakteristik awal siswa
a.   Dengan menggunakan catatan-catatan atau dokumen yang tersedia. Dokumen misalnya nilai  Surat Tanda Tamat Belajar (STTB), nilai rapor, nilai tes intelegensi, dan nilai tes masuk catatan-catatan mengenai prestasi dalam berbagai budang kegiatan yang pernah diperoleh, kesemuanya merupakan informasi yang sangat berguna untuk mengetahui keadaan siswa
b.   Dengan menggunakan tes prasyarat dan tes awaa. Tes prasyarat adalah tes untuk mengetahui apakah siswa telah memilih pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan atau disyaratkan untuk mengikuti suatu pelajaran. Sedangkan tes awal adalah tes untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan atau keterampilan mengenai ajaran yang hendak diikuti.
c. Mengadakan konsultasi individual. Dengan mengadakan konsultasi individual terhadap siswa, guru akan lebih dapat mengadakan pendekatan secara personal untuk guru memperoleh informasi mengenai minat, sikap, keinginan siswa dan sebagainya.
d. Dengan menyampaikan angket atau questionnaire angket bias disususn kemudian disampaikan kepada siswa misalnya untuk mengetahui gaya belajar mereka. Gaya belajar ada bermacam-macam misalnya: dependent, independent, competitive, participant, dan sebagainya.


Rabu, 07 Maret 2018

Konsep dan Pendekatan Sistem Dalam Pembelajaran

Konsep dan Pendekatan Sistem Dalam Pembelajaran

Konsep Perencanaan Sistem Pembelajaran

A.    Pengertian Perencanaan Pembelajaran
Toeti Soekamto dalam Afandi (2009:148) mendefinisikan perencanaan pembelajaran sebagai usaha untuk mempermudah proses belajar-mengajar sehingga diperlukan perencanaan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran dapat dikatakan sebagai pengembangan pembelajaran yang merupakan sistem yang terintegrasi dan terdiri atas beberapa unsur yang saling berinteraksi.
Perencanaan pembelajaran dikemukakan oleh Nana Sudjana dalam Afandi (2009:148) menjelaskan bahwa perencanaan pembelajaran merupakan kegiatan memproyeksikan tindakan apa yang akan dilaksanakan dalam suatu pembelajaran (PBM) yaitu dengan mengkoordinasikan (mengatur dan merespons) komponen-komponen pembelajaran, sehingga arah kegiatan (tujuan), isi kegiatan (materi), cara penyampaian kegiatan (metode dan teknik, serta bagaimana mengukurnya (evaluasi) menjadi jelas dan sisitematis". Hal ini berarti perencanaan pembelajaran pada dasarnya adalah mengatur dan menetapkan komponen-komponen tujuan, bahan, metoda atau teknik, serta evaluasi atau penilaian.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Perencanaan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan terus menerus dan menyeluruh, dimulai dari penyusunan suatu rencana, evaluasi pelaksanaan, dan hasil yang dicapai dari tujuan yang sudah ditetapkan. Dengan adanya penyusunan perencanaan kita sebagai pendidik memiliki gambaran mengenai pelaksanaan selama proses pembelajaran agar tersciptanya suasana pembelajaran yang kondusif dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Administrative ActionTechniques of Organization and Management :
Perencanaan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. Perencanaan mengandung rangkaian-rangkaian putusan yang luas dan penjelasan-penjelasan dari tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program, penentuan metode-metode dan prosedur tertentu dan penentuan kegiatan berdasarkan jadwal sehari-hari.
 Perencanaan pembelajaran adalah suatu proses penyusunan materi pelajaran, penggunaan media pengajaran, penggunaan pendekatan dan metode pengajaran, penilaian dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

B.     Prinsip Perencanaan Pembelajaran
Dalam praktiknya, terdapat beberapa prinsip perencanaan pembelajaran yang harus diperhatikan sehingga proses belajar mengajar (PBM) di kelas dapat dilaksanakan secara efektif. Beberapa prinsip perencanaan pembelajaran, menurut Sagala dalam Afandi (2009:149-150) , terdiri atas:
1.     Menetapkan apa yang akan dilakukan oleh guru, kapan dan bagaimana cara melakukannya dalam implementasi pembelajaran
2.     Membatasi sasaran atas dasar tujuan intruksional khusus dan menetapkan pelaksanaan kerja untuk mencapai hasil yang maksimal melalui proses penentuan target pembelajaran.
3.       Mengembangkan alternatif-alternatif yang sesuai dengan strategi pembelajaran.
4.  Mengumpulkan dan menganalisis informasi yang penting untuk mendukung kegiatan pembelajaran.
5.  Mempersiapkan dan mengkomunikasikan rencana-rencana dan keputusankeputusan yang berkaitan dengan pembelajaran kepada pihak yang berkepentingan.
Berdasarkan uraian di atas, maka perencanaan pembelajaran itu harus dapat mengembangkan berbagai kemampuan yang dimiliki siswa secara optimal, mempunyai tujuan yang jelas dan teratur serta dapat memberikan deskripsi tentang materi yang diperlukan dalam mencapai tujuan pembelajaran seperti yang telah ditetapkan, dengan memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a.       Menetapkan apa yang akan dilakukan oleh guru.
b.      Membatasi sasaran berdasarkan kompetensi (tujuan) yang hendak dicapai.
c.       Mengembangkan alternatif-alternatif pembelajaran yang akan menunjang
kompetensi (tujuan) yang telah ditetapkan.
Sumber : Afandi, Muhammad. 2009. Perencanaan Pembelajaran Pendidikan Dasar.  Vol.1, No.2. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=325577&val=7660&title=PERENCANAAN%20PEMBELAJARAN%20PENDIDIKAN%20DASAR (Diakses Pada 7 Maret 2018)

Prinsip Perencanaa Pembelajaran :
1.      Signifikasi
2.      Relevansi
3.      Adaptif
4.      Feasibilitas
5.      Kepastian
6.      Ketelitian
7.      Waktu
8.      Monitoring
9.      Isi perencanaan

C.     Karakteristik Perencanaan Pembelajaran
Kemudian menurut Banghart dan Trull dalam Harjanto yang selanjutnya dikutip oleh Darwyn Syah, menjelaskan terdapat beberapa karakteristik perencanaan pengajaran yaitu:
a.    Merupakan proses rasional, sebab berkaitan dengan tujuan social dan konsep–konsepnya yang dirancang oleh banyak orang.
b.    Merupakan konsep dinamik, sehingga dapat dan perlu dimodifikasi jika informasi yang masuk mengharapkan demikian.
c.    Perencanaan terdiri dari beberapa aktivitas, aktivitas itu banyak ragamnya, namun dapat dikategorikan menjadi prosedur-prosedur.
d.   Perencanaan pengajaran berkaitan dengan pemilihan sumber dana, sehingga harus mampu mengurangi pemborosan, duplikasi, salah penggunaan dan salah dalam manajemennya.
(Diakses Pada 7 Maret 2018)
Karakterisitik Perencanaan Pembelajaran
1)   Penyusunan perencanaan pembelajaran ditujukan kepada siswa yang belajar
2)   Memilki tahapan-tahapan (persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut)
3)   Sistematis
4)   Pendekatan sistem
5)   Pembelajaran yang humanis
  
D.    Manfaat Perencanaan Pembelajaran
Menurut Mulyasa (2008 : 42) Manfaat Perencanaan Pembelajaran :
1.    Pertama memberikan kejelasan dalam pencapaian kompetensi peserta didik, dan prasyarat yang diperlukan oleh peserta didik untuk dapat mengikuti pembelajaran di sekolah tersebut.Pendekatan system dalam pembelajaran Situasi seperti ini menggambarkan bahwa perencanaan yang baik akan memudahkan pelaksanaannya. Bahkan jika di sekolah tersebut terjadi berbagai perubahan personal dan kepemimpinan, masih dapat dilaksanakan dengan mudah karena adanya perencanaan yang baik. Disisi lain adanya perencanaan dapat digunakan oleh manajemen sekolah maupun oleh guru lain manaka personal yang berkepentingan berhalangan.
2.    Meningkatkan efesiensi dalam proses pelaksanaan.7 Adanya perencanaan akan memberikan gambaran tentang kebutuhan sumber daya yang diperlukan dalam mencapai kompetensi. Baik itu sember daya manuasia maupun non manusia.
3.    Melaksanakan proses pengembangan berkelanjutan. Adanya perencanaan dapat menentukan berbagai proses yang dibutuhkan pada kurun waktu tertentu. dengan memperhatikan prioritas yang harus dicapai. maka perencanaan saat ini merupakan dasar dari perencanaan berikutnya, demikian seterusnya akan terjadi kesinambungan antara satu perencanaan dengan perencanaan berikutnya, dari satu indikator ke indikator lainnya, dalam berbagai kompetensi dasar yang sesuai dengan tahap perkembangan siswa didik pada setiap jenjang kelas, sehingga kemudian pengembangan secara berkelanjutan akan dapat dilakukan.
4.    Perencanaan pembelajaran dapat digunakan untuk menarik sebagai suatu hasil karya ilmiah bagi seorang pendidik untuk jadikan bahan usulan dalam kenaikan jabatan/golongan, sehingga sangat perlu dilakukan mendasain suatu rencana pembelajaran yang sesuai dengan standar isi dan kompetensi dasar pada tingkatan kelas yang berbeda.
Sumber : Mulyasa .2008. Implementasi KTSP, Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah. Jakarta https://www.google.co.id/url?q=http://digilib.uinsby.ac.id/10366/5/bab%25202.pdf&sa=U&ved=2ahUKEwjKvraz2dnZAhUFopQKHQRpC9o4ChAWMAB6BAgJEAE&usg=AOvVaw1D3nRaIMg41lDLUmr_fkev (Diakses Pada 7 Maret 2018)
Manfaat Perencanaan Pembelajaran  :
a.       Sebagai petunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan.
b.      Sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsure yang terlibat dalam kegiatan.
c.       Sebagai pedoman kerja bagi setiap unsur, baik unsur guru maupun unsur murid.
d.      Sebagai alat ukur efektif tidaknya suatu pekerjaan, sehingga setiap saat diketahui ketepatan dan kelambatan kerja.
e.       Untuk bahan penyusunan data agar terjadi keseimbangan kerja. Untuk menghemat waktu, tenaga, alat-alat dan biaya

Pendekatan Sistem Dalam Pembelajaran

A.    Pengertian Sistem
Sistem berasal dari bahasa Yunani yaitu ’systema’ yang mempunyai arti serangkaian dari obyek-obyek yang digabungkan oleh suatu kerangka interaksi yang teratur atau saling bergantungan.
Sistem adalah suatu konsep yang abstrak yakni seperangkat komponen atau unsur-unsur yang saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan (Oemar, H: 2002)
     Ciri utama suatu  sistem menurut Sanjaya, 2008:2, yaitu sebagai berikut:
·       Suatu sistem memiliki tujuan tertentu
·       Untuk mencapai tujuan sebuah sistem memiliki fungsih-fungsih tertentu
·       Untuk menggerakka funsi, suatu sistem harus ditunjang oleh berbagai komponen

B.     Pengertian Pendekatan Sistem
Pendekatan adalah suatu cara untuk menangani suatu masalah. Pendekatan sistem meruapakan cara untuk menangani suatu masalah berdasarkan berpikir kesisteman. Pendekatan sistem terhadap suatu masalah adalah suatu cara untuk menangani suatu masalah dengan mempertimbangan semua aspek yang terkait dengan masalah itu dan mengkonsentrasikan perhatiannya kepada interaksi antara aspek-aspek yang terkait dari permasalahan tersebut. Jadi pendekatan sistem adalah suatu pendekatan pemecahan masalah yang dilakukan secara sistematis dan menyeluruh (sistemik). Dalam hal ini sistemik adalah suatu analisis dan evaluasi yang memperhatikan seluruh faktor yang berhubungan dengan masalah itu termasuk keterkaitan antar faktor yang bersangkutan.
Pendekatan sistem adalah alat atau teknik yang dirancang untuk memahami suatu sistem, suatu cara yang dilakukan secara ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan untuk melakukan berbagai analisis terhadap suatu sistem.

C.     Pembelajaran Sebagai Suatu Sistem
Sistem pembelajaran merupakan suatu kombinasi terorganisir yang meliputi unsur-unsur manusiawi, material, faslitas, perlengkapan dan prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan.
Bentuk sederhana pendekatan sistem dalam pembelajaran:
·         Mengidentifikasi
·         Mengembangkan
·         Mengevaluasi
·         Merevisi

D.    Manfaat Penerapan Pendekatan Sistem Dalam Perencanaan Pembelajaran
Pengunaan pendekatan sistem dalam perencanaan pembelajaran bermanfaat dalam:
· Dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kegiatan perencanaan pembelajaran
·      Menghasilkan rumusan rencana pembelajaran yang bermutu
·      Dapat menyusun sistem pembelajaran yang efektif dan efesien.



Hakikat Pembelajaran, Desain Pembelajaran, Analisis Kebutuhan, dan Analisis Karakteristik Siswa

1.      Hakikat Pembelajaran A.  Pengertian Pembelajaran       Menurut Ahmar (2012: 10) Pembelajaran adalah proses interaksi peserta d...